Info Anda post author Kiwi 04 Oktober 2026

Luncurkan Buku 21 Tahun, Bruder Stephanus Paiman, OFMCap: Ketua FRKP, Aplikasi Moderasi Beragama, Humanisme Lintas Budaya Wajah Gereja Katolik: Merekam Jejak Sang Tokoh Kemanusiaan Merawat Persaudaraan Tanpa Batas

Photo of Luncurkan Buku 21 Tahun, Bruder Stephanus Paiman, OFMCap: Ketua FRKP, Aplikasi Moderasi Beragama, Humanisme Lintas Budaya Wajah Gereja Katolik: Merekam Jejak Sang Tokoh Kemanusiaan Merawat Persaudaraan Tanpa Batas

PONTIANAK, SP – Malam di Sekretariat Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), Jalan Purnama, Kota Pontianak, Senin (28/9/2026) malam WIB, bukan sekadar perayaan ulang tahun.

Wajah-wajah dari berbagai latar belakang berkumpul membawa cerita, kenangan dan rasa syukur. Ada pemimpin daerah, tokoh adat, cendekiawan, tokoh agama, para bruder, suster, pastor, relawan, komunitas, jemaat hingga umat.

Mereka datang bukan hanya untuk merayakan ulang tahun Bruder Stephanus Paiman, OFMCap., yang memasuki usia 64 tahun, tetapi juga mensyukuri perjalanan panjang FRKP yang telah memasuki usia 21 tahun serta delapan tahun perjalanan FRKP West Borneo Vespa Lovers.

Namun, ada satu bagian yang membuat malam itu terasa berbeda.

Sebuah buku diluncurkan. Bukan sekadar buku ulang tahun, melainkan sebuah catatan yang mencoba menyimpan jejak perjalanan seorang Bruder bersama para relawan kemanusiaan yang selama lebih dari dua dekade memilih hadir di tengah masyarakat.

Buku berjudul “21 Tahun FRKP Berkarya” tersebut mengangkat judul “Bruder Stephanus Paiman, OFMCap: Ketua FRKP, Aplikasi Moderasi Beragama, Humanisme Lintas Budaya Wajah Gereja Katolik.”

Judul itu seperti sebuah pintu untuk melihat sosok Bruder Stephanus bukan hanya sebagai seorang pemimpin komunitas, tetapi sebagai bagian dari perjalanan panjang gerakan kemanusiaan yang mempertemukan banyak orang, agama, budaya dan latar belakang dalam satu ruang bernama kemanusiaan.

Buku tersebut merekam perjalanan FRKP sekaligus jejak para relawan yang selama bertahun-tahun berkumpul, bekerja dan bergerak bersama dalam berbagai kegiatan sosial, kemanusiaan, lingkungan dan pelayanan kepada masyarakat.

Bagi Bruder Stephanus, kehadiran berbagai tokoh dan seluruh umat dalam perayaan tersebut menjadi bagian penting dari makna perjalanan yang telah dilalui.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan, para tokoh daerah, tokoh adat, cendekiawan, tokoh agama, para bruder, suster, pastor, relawan, komunitas, serta seluruh jemaat dan umat yang telah meluangkan waktu untuk hadir.

“Terima kasih kepada Bapak Wakil Gubernur yang sudah meluangkan waktu untuk hadir, juga kepada seluruh tokoh, para bruder, suster, pastor, umat dan jemaat serta semua yang sudah bersama-sama hadir dalam perayaan ini,” ujar Bruder Stephanus.

Memasuki usia 64 tahun, ia memandang pertambahan usia bukan sekadar angka, melainkan anugerah Tuhan sekaligus kesempatan untuk melihat kembali perjalanan panggilan dan pelayanan yang telah dilalui.

“Usia 64 tahun ini adalah anugerah Tuhan. Saya hanya meminta didoakan agar tetap sehat dan setia dalam panggilan melayani Tuhan dan sesama, terutama mereka yang membutuhkan,” katanya.

Sementara 21 tahun FRKP dan delapan tahun FRKP West Borneo Vespa Lovers, menurutnya, merupakan bagian dari perjalanan kebersamaan yang dibangun bersama banyak orang.

Dari Misa Syukur hingga Peluncuran Buku

Perayaan diawali dengan Misa Syukur yang dipimpin Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak sekaligus Uskup Sintang, Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap.

Mgr Samuel didampingi Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak RD Alexius Alex, Pastor Pionius Hendi OFMCap selaku Sekretaris Kapusin Provinsi Pontianak, serta Pastor Innocentius Sialim OFMCap, Pastor Paroki Gembala Baik.

Dalam homilinya, Mgr Samuel mengajak umat melihat kembali makna iman yang tidak berhenti pada pengetahuan atau sekadar menjadi identitas keagamaan, tetapi menemukan bentuknya dalam doa, kehidupan dan pelayanan kepada sesama.

Mgr Samuel mengambil teladan Santo Padre Pio dari Pietrelcina, seorang imam Kapusin yang dikenal memiliki kehidupan doa yang mendalam. Ia mengutip ungkapan Padre Pio, bahwa dalam kitab-kitab manusia mencari Tuhan, sedangkan dalam doa manusia menemukan-Nya.

Menurut Mgr Samuel, seseorang dapat membaca banyak buku tentang Tuhan, memahami Kitab Suci dan mengetahui berbagai ajaran agama. Namun, pengetahuan tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan kedalaman iman apabila tidak mengubah cara seseorang menjalani kehidupan.

Iman, kata dia, perlu dibawa ke dalam doa dan kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata.

Pesan tersebut menemukan relevansinya dengan perjalanan Bruder Stephanus bersama FRKP. Sebab, kehidupan dan pelayanan seorang religius tidak hanya berbicara mengenai apa yang diyakini, tetapi bagaimana keyakinan itu diwujudkan melalui pengabdian kepada Gereja, masyarakat dan lingkungan.

Iman tidak berhenti pada apa yang diketahui tentang Tuhan. Iman menemukan kedalamannya ketika menjadi doa, membentuk kehidupan dan berbuah dalam pelayanan kepada sesama.

Pesan itu sekaligus menjadi refleksi atas perjalanan FRKP selama 21 tahun. Forum tersebut selama ini menjadi ruang bagi para relawan untuk menerjemahkan kepedulian ke dalam tindakan melalui berbagai kegiatan sosial, kemanusiaan, lingkungan dan pelayanan masyarakat.

Setelah misa, rangkaian acara dilanjutkan dengan syukuran dan peluncuran buku “21 Tahun FRKP Berkarya.”

Peluncuran buku menjadi salah satu momen penting karena perjalanan panjang FRKP yang selama ini lebih banyak terlihat melalui kegiatan di lapangan kemudian dituangkan dalam sebuah karya yang mendokumentasikan pengalaman, perjumpaan, persaudaraan dan pengabdian para relawan.

Buku tersebut tidak sekadar menjadi catatan administratif organisasi. Di dalamnya tersimpan ingatan tentang orang-orang yang pernah terlibat, masyarakat yang pernah dibantu, berbagai kegiatan yang telah dilakukan serta semangat kemanusiaan yang terus dipelihara dari tahun ke tahun.

Kemanusiaan Menjadi Bahasa Persaudaraan

Dalam perjalanan FRKP, kemanusiaan tidak berhenti pada kata-kata.

Ia hadir dalam aksi sosial, membantu warga yang membutuhkan, merespons persoalan lingkungan, mendatangi tempat-tempat yang jauh, berbagi air bersih, membuka ruang persaudaraan dan membangun komunikasi lintas kelompok.

Dua puluh satu tahun tentu bukan perjalanan yang pendek.

Ada banyak wajah yang datang dan pergi. Ada banyak peristiwa yang telah dilewati. Ada pula banyak tangan yang bekerja tanpa selalu tercatat namanya.

Karena itu, buku tersebut menjadi penting bukan semata-mata karena menampilkan perjalanan Bruder Stephanus, tetapi juga karena di dalamnya tersimpan jejak para relawan yang pernah berkumpul dan bergerak bersama FRKP.

Kemanusiaan Bahasa yang Mempertemukan Mereka.

Di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan Barat, semangat itu menemukan bentuknya dalam berbagai kegiatan FRKP. Persaudaraan tidak dibangun dengan menyeragamkan perbedaan, tetapi dengan menerima perbedaan sebagai bagian dari kehidupan bersama.

Di titik inilah tema moderasi beragama dan humanisme lintas budaya yang diangkat dalam buku menjadi relevan.

Bruder Stephanus selama perjalanan bersama FRKP bertemu dengan masyarakat dari berbagai agama, etnis, profesi dan latar belakang sosial. Pertemuan-pertemuan tersebut menjadi ruang untuk membangun kepercayaan bahwa kepedulian terhadap sesama tidak mengenal sekat identitas.

Buku itu pun menjadi dokumentasi bahwa kerja kemanusiaan dapat menjadi wajah lain dari persaudaraan.

Bukan persaudaraan yang berhenti pada pertemuan seremonial, melainkan persaudaraan yang diuji ketika ada masyarakat membutuhkan bantuan.

Wagub: Bruder Stephanus Sosok Bersahaja

Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan memberikan apresiasi terhadap perjalanan pelayanan Bruder Stephanus yang selama ini tidak hanya berkaitan dengan kehidupan keagamaan, tetapi juga menyentuh berbagai persoalan kemanusiaan di tengah masyarakat.

Krisantus menyebut Bruder Stephanus sebagai sosok yang bersahaja dan mampu membangun pelayanan yang melampaui batas-batas perbedaan.

“Bruder Stephanus adalah sosok yang sangat bersahaja dan menjadi teladan bagi kita semua. Karya-karya kemanusiaan yang dilakukan melalui FRKP telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kalimantan Barat, tanpa membedakan latar belakang suku maupun agama,” ungkap Krisantus.

Menurutnya, semangat pelayanan seperti yang ditunjukkan Bruder Stephanus memiliki arti penting bagi Kalimantan Barat yang memiliki keberagaman suku, agama dan budaya.

“Semangat ini sejalan dengan karakter Kalimantan Barat sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman,” tambahnya.

Krisantus juga mendoakan agar Bruder Stephanus yang memasuki usia ke-64 tahun senantiasa diberikan kesehatan, kebijaksanaan dan keteguhan hati untuk terus menjalankan panggilan pelayanan.

“Semoga Tuhan senantiasa menyertai setiap langkah dan karya pelayanan Bruder Stephanus, sehingga terus menjadi berkat bagi banyak orang,” katanya.

Heri Saman: Perjalanan yang Dibangun Bersama

Ketua Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional (ICDN) Kalimantan Barat, Heri Saman, yang turut hadir dalam perayaan tersebut, melihat perjalanan Bruder Stephanus bersama FRKP sebagai bagian dari kebersamaan dengan berbagai elemen masyarakat.

Kehadiran Heri bersama para tokoh daerah, tokoh adat, cendekiawan dan masyarakat memperlihatkan bahwa FRKP tumbuh bukan hanya sebagai organisasi relawan, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat yang dipertemukan oleh kepedulian terhadap sesama.

Menurut Heri, konsistensi Bruder Stephanus dalam membantu masyarakat tanpa membedakan latar belakang suku, agama maupun budaya telah menghadirkan gambaran positif tentang peran Gereja Katolik di tengah kehidupan masyarakat Kalbar.

“Kami sangat mengapresiasi karya-karya kemanusiaan yang dilakukan Bruder Stephanus bersama FRKP. Pelayanan yang dilakukan secara nyata kepada masyarakat, tanpa melihat perbedaan suku, agama dan latar belakang, tentu memberikan citra positif Gereja Katolik di tengah masyarakat,” ujar Heri.

Menurut Heri, kerja-kerja kemanusiaan seperti yang dilakukan FRKP memiliki arti penting bagi Kalimantan Barat yang dikenal sebagai daerah dengan keberagaman masyarakat.

Pelayanan kepada mereka yang membutuhkan, kata dia, menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat persaudaraan dan kepedulian sosial.

“Kemanusiaan menjadi titik temu kita. Ketika seseorang hadir membantu orang lain yang sedang membutuhkan, yang dilihat bukan lagi perbedaan agama, suku atau latar belakang, tetapi kebutuhan dan martabat manusia itu sendiri,” katanya.

Kehadiran berbagai tokoh dalam peluncuran buku tersebut juga menjadi bagian penting dari perjalanan FRKP. Sebab, sebuah gerakan kemanusiaan tidak pernah lahir dari satu orang saja, melainkan dari banyak orang yang bersedia menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran dan kepedulian.

Delapan Tahun FRKP West Borneo Vespa Lovers

Semangat kebersamaan itu pula yang menjadi bagian dari perjalanan FRKP West Borneo Vespa Lovers yang telah berjalan selama delapan tahun.

Komunitas Vespa yang lekat dengan hobi dan persaudaraan antarpengendara tersebut kemudian memiliki ruang pengabdian sosial. Perjalanan menjadi cara untuk bertemu masyarakat, sementara kebersamaan menjadi kekuatan untuk berbagi.

Karena itu, delapan tahun perjalanan FRKP West Borneo Vespa Lovers tidak berdiri sendiri dari perjalanan FRKP.

Keduanya bertemu dalam semangat yang sama, yakni menjadikan persaudaraan bukan sekadar hubungan antarsesama anggota komunitas, tetapi juga energi untuk hadir bagi masyarakat.

Dengan demikian, tiga momentum yang dirayakan malam itu memiliki hubungan yang kuat.

64 tahun Bruder Stephanus merupakan perjalanan panggilan pribadi. 21 tahun FRKP merupakan perjalanan gerakan kemanusiaan. Sedangkan delapan tahun FRKP West Borneo Vespa Lovers merupakan perjalanan persaudaraan komunitas.

Ketiganya bertemu dalam satu nilai yang sama, yaitu kepedulian terhadap sesama.

Buku untuk Menjaga Ingatan

Dua puluh satu tahun bukan perjalanan yang pendek. Di dalamnya terdapat banyak cerita tentang orang-orang yang datang membawa kepedulian, relawan yang bekerja tanpa banyak bicara, masyarakat yang membutuhkan pertolongan, serta berbagai peristiwa yang mempertemukan manusia dengan manusia lainnya.

FRKP hadir sebagai wadah yang mempertemukan mereka.

Semangatnya sederhana, hadir ketika masyarakat membutuhkan dan membantu sesuai kemampuan yang dimiliki, tanpa terlebih dahulu melihat suku, agama, latar belakang sosial maupun identitas orang yang dibantu.

Karena itu, buku “21 Tahun FRKP Berkarya” menjadi semacam jembatan antara masa lalu, masa kini dan masa depan FRKP.

Apa yang selama ini dilakukan para relawan di lapangan tidak hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut, tetapi mulai dihimpun menjadi catatan yang dapat dibaca dan dikenang oleh generasi berikutnya.

Sebab, sebuah gerakan kemanusiaan tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mau bergerak, tetapi juga membutuhkan ingatan agar nilai dan pengalaman yang telah dibangun tidak hilang begitu saja.

Di dalam buku itu ada perjalanan yang telah dilalui. Sementara di luarnya masih terbentang pekerjaan kemanusiaan yang belum selesai.

Karena itu, peluncuran buku bukan tanda bahwa perjalanan FRKP telah berakhir. Justru menjadi momentum untuk melihat kembali apa yang telah dilakukan, mengambil pelajaran dari perjalanan tersebut dan meneruskan langkah.

Harapan yang Melampaui Usia

Memasuki usia 21 tahun, perjalanan FRKP tentu tidak berhenti pada perayaan dan dokumentasi.

Buku tersebut justru menjadi pengingat bahwa kerja-kerja kemanusiaan harus terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

FRKP diharapkan tetap menjadi ruang terbuka bagi siapa saja yang ingin berbuat baik. Relawan tidak harus datang dari latar belakang yang sama. Mereka dapat berbeda keyakinan, profesi, komunitas dan cara pandang, tetapi dipertemukan oleh kepedulian terhadap manusia dan lingkungan.

Bagi Bruder Stephanus, perjalanan panjang tersebut pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak kegiatan yang telah dilakukan, melainkan tentang seberapa banyak nilai kemanusiaan yang dapat diwariskan.
Sebab sebuah gerakan sosial akan memiliki usia yang lebih panjang ketika tidak bergantung pada satu orang.

Ia harus tumbuh menjadi nilai yang diwariskan dari satu generasi relawan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, peluncuran buku “21 Tahun FRKP Berkarya” dapat dibaca sebagai pesan agar apa yang telah dilakukan hari ini tidak berhenti sebagai kenangan.
Jejak Itu Harus menjadi Inspirasi

Kerja kemanusiaan harus terus berjalan. Persaudaraan harus terus dirawat. Moderasi beragama harus terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Kepedulian terhadap lingkungan pun harus menjadi bagian dari tanggung jawab bersama.

Pada akhirnya, buku itu bukan hanya bercerita tentang Bruder Stephanus.
Ia bercerita tentang orang-orang yang pernah berjalan bersamanya, para relawan yang memilih hadir ketika masyarakat membutuhkan, masyarakat yang menjadi bagian dari perjalanan pelayanan, serta tentang sebuah keyakinan sederhana bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berjarak, karena kemanusiaan selalu menyediakan ruang untuk berjalan bersama.

Dua puluh satu tahun FRKP pun menjadi bukan sekadar hitungan waktu.

Ia adalah catatan panjang tentang persaudaraan yang dirawat melalui tindakan.

Dan harapannya, ketika suatu hari buku itu kembali dibuka oleh generasi yang berbeda, masih ada cerita baru yang bisa ditambahkan: tentang relawan-relawan baru, masyarakat yang kembali dibantu, lingkungan yang terus dijaga dan persaudaraan yang tidak pernah selesai untuk dirawat.

Sebab bagi gerakan kemanusiaan, usia boleh bertambah, tetapi kepedulian tidak boleh berakhir. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda